Selasa, 06 Oktober 2020

MENTAL HEALTH DI PANDEMI COVID 19

 

Mental Health

 





          Menurut  World Health Organization (WHO) kesehatan mental adalah keadaan sejahterah di mana setiap individu bisa mewujudkan potensi mereka sendiri. Artinya, mereka dapat mengatasi tekanan kehidupan yang normal, dapat berfungsi secara produktif dan bermanfaat, dan mampu memberikan kontribusi kepada komunitas mereka. Menurut Pieper dan Uden kesehatan mental adalah suatu keadaan di mana seseorang tidak mengalami perasaan bersalah terhadap dirinya sendiri, memiliki estimasi yang relastis terhadap dirinya sendiri dan dapat menerima kekurangan atau kelemahannya, kemampuan menghadapi masalah-masalah dalam hidupnya, memiliki kepuasan dalam kehidupan sosialnya serta memiliki kebahagiaan dalam hidupnya.

Di saat seperti ini, yaitu di masa COVID 19 banyak sekali kegiatan yang ditunda, dibatalkan, dan lebih banya menghabiskan waktu di rumah (stay at home). Bagi sebagian orang hal ini bisa dirasakan sebagai suatu tekanan atau beban yang sangat besar. Bila tidak bisa dikendalikan, tekanan tersebut akan berdampak negatif bagi kesehatan mental diri sendiri. Gangguan kesehatan mental yang terjadi selama pandemi dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti ketakukan terhadap wabah COVID 19 ini, rasa terasing selama menjalani karantina di rumah, rasa kesedihan dan kesepian karena jauh dari keluarga, saudara, ataupun anak, kecemasan terhadap kebutuhan hidup sehari-hari yang harus terpenuhi, ditambah lagi kebingungan akibat banyaknya informasi yang simpang siur kebenarannya.

Beberapa kelompok yang rentan mengalami stress selama pandemi virus ini adalah anak-anak, lansia, dan para petugas medis. Tekanan yang berlangsung selama pandemi saat ini dapat menyebabkan gangguan mental. ada beberapa gejala atau tanda dari gangguan mental itu, bersumber dari Alodokter gejala dan tanda gangguan mental tergantung pada jenis gangguan jiwa yang dialami. Penderita bisa mengalami gangguan pada emosi, pola pikir, dan perilaku. Beberapa contoh gejala gangguan mental adalah:

  • Waham atau delusi, yaitu meyakini sesuatu yang tidak nyata atau tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya.
  • Halusinasi, yaitu sensasi ketika seseorang melihat, mendengar, atau merasakan sesuatu yang sebenarnya tidak nyata.
  • Suasana hati yang berubah-ubah dalam periode-periode tertentu.
  • Perasaan sedih yang berlangsung hingga berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.
  • Perasaan cemas dan takut yang berlebihan dan terus menerus, sampai mengganggu aktivitas sehari-hari.
  • Gangguan makan misalnya merasa takut berat badan bertambah, cenderung memuntahkan makanan, atau makan dalam jumlah banyak.
  • Perubahan pada pola tidur, seperti mudah mengantuk dan tertidur, sulit tidur, serta gangguan pernapasan dan kaki gelisah saat tidur.
  • Kecanduan nikotin dan alkohol, serta penyalahgunaan NAPZA.
  • Marah berlebihan sampai mengamuk dan melakukan tindak kekerasan.
  • Perilaku yang tidak wajar, seperti teriak-teriak tidak jelas, berbicara dan tertawa sendiri, serta keluar rumah dalam kondisi telanjang.

Selain gejala yang terkait dengan psikologis, penderita gangguan mental juga dapat mengalami gejala pada fisik, misalnya sakit kepala, sakit punggung, dan sakit maag. Namun bukan berarti gangguan mental itu tidak bisa kita cegah. Namun, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko serangan gangguan mental, yaitu:

  • Tetap berpartisipasi aktif dalam pergaulan dan aktivitas yang disenangi.
  • Berbagilah dengan teman dan keluarga saat menghadapi masalah.
  • Lakukan olahraga rutin, makan teratur, dan kelola stres dengan baik.
  • Tidur dan bangun tidur teratur pada waktu yang sama setiap harinya.
  • Jangan merokok dan menggunakan NAPZA.
  • Batasi konsumsi minuman beralkohol dan minuman berkafein.
  • Konsumsi obat-obatan yang diresepkan dokter, sesuai dosis dan aturan pakai.
  • Segera ke dokter bila muncul gejala gangguan mental.

 

Selalu berpikir positif dan memastikan akan kebenaran berita yang bersebaran juga menjadi hal penting dalam menghadapi masa pandemi COVID 19. Lebih banyak melakukan atau meningkatkan ibadah juga bisa menurunkan atau mencegah stress datang, bersabar  dalam menghadapinya dengan tetap menjaga kesehatan fisik dan mental, pasti pandemi ini akan ada akhirnya.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENTAL HEALTH DI PANDEMI COVID 19

  Mental Health              Menurut   World Health Organization (WHO) kesehatan mental adalah keadaan sejahterah di mana setiap indiv...